Belakangan ini, Montessori semakin marak dipraktikkan oleh para orang tua muda. Sebelum menerapkan, parents mulai dari baca-baca referensi dari google, baca blog orang (mungkin blog saya salah satunya, hehehe), ikut webinar atau kursus Montessori (baik yang sifatnya non-sertifikat atau yang sudah terakreditasi BAN).
Sejujurnya, saya ikutan happy karena saya salah satu yang ikut menyemarakkan agar orang tua menerapkan metode Montessori di rumah untuk anak-anak mereka. Karena berdasarkan pengalaman saya sendiri, saya bisa kasih testimoni positif bagaimana metode Montessori sudah membantu saya mengajar anak-anak di rumah, mulai dari stimulasi sederhana untuk beragam kebutuhan sensori anak, kegiatan belajar menyenangkan dengan aparatus, sampai kegiatan akademik seperti membaca, menulis, dan berhitung.
Kali ini, saya mau sharing pengalaman saya bagaimana memulai Montessori dan menerapkannya mulai dari anak pertama saya hingga sekarang anak kedua. Ntar parents ikutan sharing juga ya :)
Klarifikasi hasil belajar parents dengan buku/jurnal/sharing dari teman parents yang sudah lebih dahulu menerapkan Montessori.
Berhubung sekarang ini banyak banget sumber belajar dari media sosial (instagram, tiktok, dll) yang bisa kita dapat dengan mudah untuk mempelajari Montessori, tidak ada salahnya kita juga mengklarifikasi hasil pembelajaran tersebut dengan sumber lain seperti buku, jurnal, school visit, atau sharing pengalaman dari parents yang sudah lebih dahulu menerapkan Montessori. Kalau memang ada budget, bisa belajar dari sumber yang lebih terakreditasi misalnya lembaga Montessori tertentu.
Mulai pahami dari filosofinya
Kalau membaca kata "Filosofi" apa sih yang ada di pikiran parents?Filosofi Montessori sebenarnya berkaitan dengan bagaimana kita memahami anak berdasarkan perkembangannya. dengan demikian kita bisa mempersiapkan lingkungan yang sesuai dengan kebutuhan anak, stimulasi apa yang dia butuhkan, atau dukungan apa yang bisa kita berikan (berhubungan sama ZPD nih, ntar kapan-kapan kita bahas konsep ini ya).
Seringkali saya menemui parents yang tergoda hanya menggunakan Montessori untuk area tertentu saja, misalnya area Bahasa dan Matematika untuk mengasah kemampuan membaca, menulis, dan berhitung. Padahal, di metode Montessori itu ada tahapan-tahapannya. Setiap area dibuat berkesinambungan untuk menyiapkan anak belajar di area berikutnya. Pembelajaran di area Practical Life sebenarnya adalah persiapan untuk area Sensorial, Bahasa, Matematika. Demikian juga pembelajaran di area Sensorial, sebenarnya adalah untuk menyiapkan anak di area Bahasa, Matematika, dan Budaya.
Praktik dengan apa yang sudah kita punya di rumah
Setelah memahami apa kebutuhan anak, kita sekarang akan mempersiapkan lingkungan yang mendukung anak bukan? nah, daripada terburu-buru cekout toko ijo atau toko orens, coba parents cek dulu barang-barang yang bisa dipakai di rumah untuk praktik Montessori?
Kalau saran saya mah, coba dari area DAPUR. Area dapur ini sebenernya sama aja dengan area Practical Life. Untuk setting sekolah, tentunya akan menyulitkan jika setiap anak beraktifitas di bawa ke dapur ya kan? Tapi untuk setting rumah, ini justru jadi kelebihan parents di rumah. Sediakan akses yang aman dan mudah untuk anak bekerja di dapur.
Setelah itu apa, eksplorasi barang-barang lain di rumah yang bisa diaplikasikan konsep ke-Montessori-annya dengan mudah. Nah, parents bisa kaitkan deh itu ke area sensorial, matematika, bahasa, atau budaya. kalau punya budget lebih, bolehlah parents beli aja aparatusnya. Tapi, saran saya mah, untuk area SENSORIAL pastikan aparatusnya presisi dan sesuai Standar. kalau untuk Bahasa, Mat, dan Budaya mungkin bisa mix: ada yang beli, ada yang DIY.
Fokus pada ANAK, bukan aparatus
Sebagaimana motto-nya, FOLLOW THE CHILD, fokus kita adalah pada anak-nya bukan pada material-nya. Follow the child merujuk pada bagaimana kita menyesuaikan lingkungan dengan kebutuhan belajar dan perkembangan anak saat ini dan sampai sejauh mana perkembangan anak yang kita harapkan. Bukan berarti lembek ngikutin aja anak maunya apa. Ini berarti ada kesalahpahaman terhadap filosofi Montessori.
Fokus pada anak juga berarti kita tidak menyediakan seabrek-abrek material dan kegiatan untuk dilakukan sama anak. Perhatikan kemampuannya saat ini, daya tahannya, kemandiriannya, dll. Maka itu penting untuk melakukan OBSERVASI terhadap anak secara menyeluruh terhadap aspek-aspek perkembangannya.
Niat dokumentasi BUKAN untuk kasih makan Medsos
Sebelumnya, monmaap duluan nih, bukan bermaksud apa-apa ya parents. Sebenernya saya pribadi juga suka kok foto dan video terus diupload di instagram. Tapi yang saya maksud disini, jangan sampai kegiatan dokumentasi ini berubah intensi-nya menjadi kebutuhan untuk mendapat apresiasi (Like, Comment, Follows) melebihi kemajuan anak yang kita harapkan :) Seru sih kalau kita upload terus dapet likes dari temen2 kita. Cuman, seringkali di tengah jalan, kita tampak ambis untuk jadiin dokumentasi tersebut sebagai "kasih makan ig/fb/tiktok"
Jadi, it's just a gentle reminder, that documentation is good for public, but better use for personal progress.
Parents yang baru mau nyobain Montessori atau sudah nerapin Montessori, boleh banget berbagi di sini yuk :)
Comments
Post a Comment